Minggu, 24 November 2019

Dikecewakan

Memaafkan sebetulnya perkara yang mudah.
yang sulit itu menahan diri untuk tidak kecewa.
saat kecewa, orang - orang lebih memilih untuk diam.
karena mau menyalahkan siapa?
sedangkan, yang mengecewakan dirinya sendiri, menaruh percaya pada orang yang salah.

Mungkin itulah penyebab mengapa dikatakan tidak enak hati.
karena dikecewakan itu  lebih menyakitkan dari pada marah karena disakiti.
tapi, tak apa.
tetaplah bersyukur, karena dari kecewa itulah kita belajar banyak hal; kesabaran, keikhlasan dan kesadaran untuk tidak lagi berharap kepada selain-Nya.

Sabtu, 09 Januari 2016

Hari Ini Aku Memutuskan Untuk Melupakanmu

Seandainya kita boleh bercakap-cakap sejenak. Tentang kau dan aku. Tentang perasaan yang kian sepuh karena waktu.
Aku sedang dalam perjalanan menuju pikiranmu. Mencari bayang-bayang diriku sendiri.
Aku tak tahu, apa istilahnya untuk cinta yang terlalu.

Yang sudah memenuhi syarat sepanjang waktu.

Yang mengorbankan rasa dan sejumlah hal lain yang tak murah harganya.



Terkadang, lelah menyuruhku berhenti untuk mencintaimu.
Namun seperti lintasan yang berputar. Setiap langkah kakiku yang menjauh, justru membawaku kembali padamu. Lagi dan lagi.
Atau, sebetulnya hanya karena aku tak pernah benar-benar berniat meninggalkanmu?

Apa kau percaya, Tuhan turut serta dalam setiap perasaan kita?
Tuhan menuntun kita mengenal rasa yang sebenarnya.
Maka aku berdoa. Untuk dua hal yang paling mungkin kita punya: bersama atau berpisah.
Karena bagiku, tak ada cinta yang abu-abu.

Kau harus menetapkan perasaanmu.
Dan aku sadar kini, sia-sia menanggung waktu demi cinta yang semu.
Entah bagaimana denganmu.
Tapi hari ini, aku memutuskan untuk melupakanmu.

Minggu, 14 Juni 2015

~ 11 Juni 2015 ~

Bismillahirohmanirrahim..
Assalamualaikum wr.wb
Malam ini saya sengaja posting di blog tentang seorang teman bukan hanya sekedar teman sih, tapi sudah saya anggap seperti saudara saya sendiri.. iyaaa kemarin dia sudah mendapatkan gelar di belakang namanyaa... Happy Gradution yaaa teman terbaikku Maretta Fitria Utami, S.Pd :)
Ini Foto waktu yudisum

Maretta Fitria Utami, S.Pd
Yaaa walaupun sebenernya saya belum pernah ngerasain gimana bahagianya mendapatkan gelar di belakang nama  heheeh.. syudah Abaikan saya, saya ga penting kok :'D

Oke balik ke topik utama kita yaaa... sekali lagi barakillaah temanku atas wisuda nya kemarin  :)
Dear Tami... Setiap akhir adalah awal permulaan yang baru... selamat datang di dunia baru mu.. Semoga Ilmunya Berkah, semakin Allah tambahkan pula jalan - jalan keluasan ilmu..  "Happy Gradution my Lovely sista"..
Kau tahu, Allah menciptakanmu begitu istimewa, Selamat menikmati apa yang disebut "Indah Pada Waktunya" semoga berkah segala perjuangan yang telah terlewati dsan bersiap untuk perjuangan selanjutnyaaa :)
Barakillaah, semoga menjadi sarjana yang penuh manfaat... terus berkarya dan terus ukir prestasinya.. Sukses Dunia Akhirat ... :) Aaamiiiinnnnn O:)

Me With Maretta Fitria Utami, S.Pd
Abaikan Muka Saya  :'D
Tepat tanggal 11 Juni 2015
Rasa senang dan bahagia diringi suka cita..
Ketika dia baru keluar dari Auditorium, dan menghampiri kita di lapangan depan Auditorium (Ayah, Ibu, Nenek, Kak Ulil, dan Saya) saya melihat matanya berkaca - kaca.. yaa aku tahu betapa bahagianya setelah berjuang selama lebih kurang 4tahun melawan rasa malas, melawan rasa bosan belajar dan akhirnya hari yang di nantikan setiap mahasiswa / mahasiswi di belahan bumi manapun akhirnya tiba... betapa bahagianya hari itu...
Tami & Ayah






Begitulah perasaan seseorang yang baru saja wisuda iyaaa kan mi? hehhehe :')
Wisuda adalah prosesi dari awal perjuangan yang mungkin sudah selesai jika kita melihat dari beresnya perkuliahan, namun pada hakikatnya hidup tidaklah ada hentinya, justru itu awal dari perjuangan kita karena setelah wisuda terlewatkan ada tanggung jawab yang lebih dan harus kita urus dengan baik.  Apalagi ketika sudah mengembang titel  S.Pd,  atau apapun itu kehdiupan kita harus selalu diperbaiki dan harus menjadi contoh yang baik... Titel baru pun telah di dapat dan sekarang siap terjun ke masyarakat untuk mengamalkan semua ilmu-ilmu yang telah di dapatkan di bangku kuliah..


Sekali lagi selamat yaaa atas wisuda nya semoga bisa merubah pendidikan yang ada di Indonesia ini... dan semoga bisa menghasilkan generasi anak didik yang lebih berkualitas lagi sebelumnya.... :) Aaamiiinnn..



Sebagai seorang teman tentu kita harus bersuka cita bersama merasakan kebahagiaan teman yang baru saja selesai wisuda..






Sekian dan terimakasih :)

Selasa, 26 Mei 2015

Seperti itu pun tak apa


Tiba saat mengerti, jerit suara hati..
Letih meski mencoba  
Melabuhkan rasa yang ada

Mohon tinggal sejenak, 
lupakanlah waktu Temani air mataku, teteskan lara  
Merajut asa, menjalin mimpi, endapkan sepi-sepi

Tentang balas dendam mungkin hanya ada dua pilihan. Bersikap tenang setenang-tenangnya keikhlasan,menghadap Tuhan untuk menukarnya dengan kebahagiaan ATAU memilih salah satu dr 1001 pikiran jahat,lalu bersiap mengotori tangan dengan sikap yang merendahkan diri karena mengikuti emosi yang melebihi nyala api..

Satu hal yang tidak akan mungkin pernah kamu pahami. Cinta itu memaafkan..
Bisa saja aku mendatangimu. Menamparmu jika perlu.Memakimu dengan sebutan bajingan seperti dalam sinetron murahan. Lalu pergi begitu saja. Melupakan.. Tapi itu tidak pernah ku lakukan.. Bagaimana mungkin diri ini merendahkan, sedang diluar sana beberapa orang setia mengingatkan bahwa aku lebih pantas dimuliakan dengan sebaik-baiknya perasaan ?
Satu hal yang juga mungkin tidak akan benar-benar kamu pahami. Jika karma itu tidak ada, perhitungan Tuhan itu pasti.

Saat dusta mengalir, jujurkanlah hati  
Genangkan batin jiwamu, genangkan cinta  
Seperti dulu, saat bersama, tak ada keraguan

Kita sudah sama-sama dewasa, tapi kadang masih saja seperti anak kecil. Berusaha membohongi perasaan kita seolah-olah itu akan ada gunanya.
Suatu hari, mungkin kita berdua akan benar-benar saling melupakan. Mungkin hanya sesekali ingat ketika mengunjungi tempat-tempat yang dulu pernah kita datangi berdua atau mendengar lagu yang dulu pernah kita dengarkan bersama.

Dimasa depan kita hanya akan menjadi kenangan. Sesuatu yang akan selalu kita rindukan. Seperti menabung rindu, tapi tentu saja bukan lagi untuk bertemu. Karena kita berdua tahu kita hanya bagian dari masa lalu dan memang sebaiknya tidak lagi tinggal disitu. Tabungan rindu itu hanya bisa kita urai kenangannya satu per satu. Tapi tetap, masih tidak untuk bertemu. Ya, seperti itu. Seperti itu pun tidak apa-apa.

Mungkin suatu hari kita akan bertemu lagi. Seperti waktu itu, setelah sekian lama kita bisa kembali tertawa dan bercanda berdua sambil menatap senja berlama-lama. Tapi kali kita bertemu lagi suatu hari nanti, mungkin semua itu akan kita lakukan dengan penuh pura-pura seolah tidak pernah terjadi apa-apa diantara kita. Seperti itu pun tidak apa-apa.

Cinta ‘kan membawamu kembali disini, 
menuai rindu  
Membasuh perih Bawa serta dirimu, dirimu yang dulu  
Mencintaiku apa adanya

Atau bisa jadi juga, suatu hari antara kamu dan kekasihmu melakukan percakapan atau candaan persis seperti yang pernah kita lakukan dulu, lalu pada jeda tertentu terdiam karena tiba-tiba saja sosokku memenuhi kepalamu dan semua kenangan tentang percakapan dan candaan kita yang sama menyenangkannya dulu membuat batinmu berbisik ‘Dulu. Dulu aku pernah melakukan hal yang sama saat masih bersamanya’. Seperti itu pun juga tidak apa-apa..
Cinta itu memaafkan. Tapi itu tidak akan menghentikan proses dimana kita berdua akan benar-benar saling melupakan dan pada akhirnya hanya akan menjadi kenangan..

Tiba saat mengerti, jerit suara hati
Letih meski mencoba  
Melabuhkan rasa yang ada
 
Mohon tinggal sejenak, lupakanlah waktu  
Temani air mataku, teteskan lara  
Merajut asa, menjalin mimpi, endapkan sepi-sepi

Menjadi apa pun nanti kita pada akhirnya, tidak apa-apa. Meski jika boleh jujur, aku tidak pernah menginginkan hal itu. Aku ingin kita adalah aku dan kamu, disini, berdua, menjadi apapun kita selama itu nyaman untuk berdua, masih saling perduli meski tidak boleh lagi melibatkan hati, masih saling menyapa dan bertanya kabar atau sesekali bertukar cerita tapi kita tetap sama-sama menjaga agar kenyamanan yang bisa kita saling berikan tidak lagi menghanyutkan perasaan. Bukan aku dan kamu yang seperti sekarang ini, berbeda tempat, bersama orang lainnya masing-masing, dan hanya mampu saling mengenang saja.
Tapi bagaimanapun juga, sepertinya, seperti sekarang ini pun tidak apa-apa. Hari ini saja. Biarkan aku sejenak berlama-lama mengingat cerita tentang kita. Bahagianya, tertawanya. Lalu melupakan lagi semuanya. Seperti itu pun tidak apa-apa.

I miss that moment. I miss the feeling being loved by someone. Someone like you, especially. 

Bawa serta dirimu, dirimu yang dulu  
Mencintaiku apa adanya

Minggu, 21 September 2014

TERUNTUK SAHABAT TERCINTA

Bismillahirahmanirahim ... 
Sahabat,.. Mungkin engkau bertanya mengapa kutuliskan cerita ini padamu, padahal kamu mengenal aku sebagai orang yang tak pernah serius memikirkan sesuatu.

Sahabat...Saidina Ali bin Abi Thalib ra., berkata bahwa iman seseorang itu adalah laksana air laut, terkadang ia pasang dan terkadang pula ia surut. Mungkin begitulah aku saat ini, sahabat.. Mungkin saat ini imanku sedang pasang sehingga aku mau menyambung tali ukhuwah kepadamu, tapi mungkin besok aku kembali seperti yang engkau kenal sebelumnya,.. yach,.. Aku akui kalau aku hanyalah seorang manusia yang belum bisa memegang teguh iman secara utuh, aku masih diliputi nafsu keduniawian yang kadang membuat aku selalu terkekang didalamnya.

Sahabat,…Mari kita merenungi perjalanan kita selama ini.Kita bertanya pada diri sendiri. Apa yang telah kita lakukan selama ini? Apakah kita telah melakukan sesuatu yang memberi manfaat untuk orang lain? Apakah kita telah memberi manfaat untuk agama? Apakah kita telah mengerjakan sesuatu untuk kebaikan saudara-saudara kita?

Sahabat,..Sejak terlahir kita telah di bai`at sebagai seorang muslim. Karena orang tua kita juga adalah muslim. Al Quran dan Assunah menjadi pegangan hidup kita. Kita baca Al Quran disetiap kesempatan, kita dengarkan untaian hadits disetiap waktu. Namun terkadang, apa yang kita baca dan kita dengar, hanyalah membaca dan mendengar tanpa ada aplikasi dalam kehidupan kita.

Sahabat,…Munafiqkah kita? Masih pantaskah kita mengharapkan syafa’at beliau kelak di hari akhir?? Sedangkan kadar ibadahku, kadar kesetiaanku lebih kecil dari perumpamaanan buih dilautan.

Seorang guru mengatakan bahwa syafa`at ialah ibarat kain untuk menambal sebuah baju, dan ibadah kita adalah ibarat baju tersebut. Tapi apakah ibadahku bisa berbentuk sebuah baju ataukah hanya secarik kain yang hanya cukup untuk menjadi sebuah lap yang hanya berguna untuk membersihkan meja dan lantai tetapi tak akan cukup untuk menutupi aurat kita. Cukupkah? Cukupkah ibadahku untuk mengharap syafa`at beliau kelak di kemudian?

Sahabat,…Ketika kita bersedih tentang penderitaan saudara-saudara kita nun jauh disana. Ketika kita marah atas penindasan pada saudara-saudara kita disana. Ketika kita menangis atas syahidnya saudara kita disana..Tapi kita menjadi buta, buta akan tetangga kita, buta akan saudara kita disini…disini… diperempatan jalan, di dalam bis kota, di sekitar tempat pembuangan sampah..

Mereka adalah saudara kita sahabat…saudara kita yang terlupakan, padahal mereka juga merintih,…mereka juga menangis,dan juga tertindas…Tertindas oleh keadaan

Lihatlah sahabat….Lihat anak kecil itu, berlari-lari di perempatan sambil melantunkan nyanyian..Lihatlah saudara kita yang menyebarkan kotak amal di bis kota..Lihatlah saudara kita yang mengais rejeki sambil mengorek sampah..Lihatlah seorang bayi yang di tetek ibunya dipinggir jalan berdebu..

Terlihatkah? Sahabat kita yang menenteng sebuah proposal untuk sebuah yayasan yatim piatu

Nampakkah? Saudara kita yang menjual pamplet untuk kehidupan sekumpulan kaum fakir?

Masihkah kita bisa melihat mereka sahabat??

Sahabat,..Kita terlalu dininabobokan oleh mimpi..Mimpi bahwa kita akan kembali berjay aMimpi bahwa kita pernah menaklukkan andalusia Mimpi bahwa kita pernah menguasai daratan eropa Padahal kita sekarang tertindas, tertindas di negeri sendiri,..Negeri yang masih mendengarkan adzan di Subuh hari Negeri yang masih menyedian waktu untuk saling bertausiyah saling, mengingatkan, dan saling menjaga ukhuwah

Sahabat….Dulu masih sering ku dengar dan kulantunkan sebuah syair tentang ketidakberdayaan..Setiap Subuh dan setelah Jumat, kudengar dan kulantunkan sebait syair,.,

Ilahi lastu lil firdausi ahlawa laa aqwa alaan naril jahiimifa habli tauubatan, wa ighfir dunubifa innaka ghafirund danbil adzimi

Allah kami bukanlah ahli syurga-Munamun kami tidak kuat keneraka-Mu terima taubat kami, ampunkan dosa kami jadikanlah kami orang yang terampuni

Sebuah syair tentang ketidakberdayaan yang mengingatkan kita akan ke-takabur-an ke-ria-an diri kita..

Semoga masih ada waktu untuk kita merenungi dan memperbaiki diri..Semoga sahabat….

''Sahabat Terbaik adalah orang yang jika kamu melihatnya ia mengingatkanmu kepada Allah, yang lisannya menambahkan ilmu bagimu, yang amalannya  mengingatkanmu akan akhirat'' (HR. ath-Thabrani)

Salam terkasih ...Dari Seorang Sahabat ....

Selasa, 09 September 2014

Mungkin, Aku Terlalu Berharap Banyak

Rasanya semua terjadi begitu cepat, kita berkenalan lalu tiba tiba merasakan perasaan yang aneh.
Setiap hari rasanya berbeda dan tak lagi sama. Kamu hadir membawa banyak perubahan dalam hari hariku.
Hitam dan putih menjadi lebih berwarna ketika sosokmu hadir mengisi ruang-ruang kosong di hatiku.
Tak ada percakapan yang biasa, seakan-akan semua terasa begitu ajaib dan luar biasa. Entahlah, perasaan ini bertumbuh melebihi batas yang kutahu.
Aku menjadi takut kehilangan kamu.
Aku sulit jauh darimu, aku membutuhkanmu seperti aku butuh udara. Napasku akan tercekat jika sosokmu hilang dari pandangan mata. Salahkah jika kamu selalu kunomorsatukan?

Tapi... entah mengapa sikapmu tidak seperti sikapku. Perhatianmu tak sedalam perhatianku. Tatapan matamu tak setajam tatapan mataku. Adakah kesalahan di antara aku dan kamu? Apakah kamu tak merasakan yang juga aku rasakan?

Kamu mungkin belum terlalu paham dengan perasaanku, karena kamu memang tak pernah sibuk memikirkanku.
Berdosakah jika aku seringkali menjatuhkan air mata untukmu? Aku selalu kehilangan kamu, dan kamu juga selalu pergi tanpa meminta izin. Meminta izin? Memangnya aku siapa? Kekasihmu? Bodoh! Tolol! Hadir dalam mimpimu pun aku sudah bersyukur, apa lagi bisa jadi milikmu seutuhnya. Mungkinkah? Bisakah?

Janjimu terlalu banyak, hingga aku lupa menghitung mana saja yang belum kamu tepati. Begitu sering kamu menyakiti, tapi kumaafkan lagi berkali kali.
Lihatlah aku yang hanya bisa terdiam dan membisu. Pandanglah aku yang mencintaimu dengan tulus namun kau hempaskan dengan begitu bulus. Seberapa tidak pentingkah aku?
Apakah aku hanyalah persimpangan jalan yang selalu kau abaikan juga kautinggalkan?

Apakah aku tak berharga di matamu? Apakah aku hanyalah boneka yang selalu ikut aturanmu? Di mana letak hatimu?! Aku tak bisa bicara banyak, juga tak ingin mengutarakan semua yang terlanjur terjadi. Aku tak berhak berbicara tentang cinta, jika kauterus tulikan telinga. Aku tak mungkin bisa berkata rindu, jika berkali-kali kauciptakan jarak yang semakin jauh. Aku tak bisa apa-apa selain memandangimu dan membawa namamu dalam percakapan panjangku dengan Tuhan.

Ingatkah perkataanmu selalu menghancurleburkan mimpi-mimpiku? Apakah aku tak pantas bahagia bersamamu? Terlau banyak pertanyaan. Aku muak sendiri. Aku mencintaimu yang belum tentu mencintaiku. Aku mengagumimu yang belum tentu paham dengan rasa kagumku.

Aku bukan siapa-siapa di matamu, dan tak akan pernah menjadi siapa-siapa. Sebenarnya, aku juga ingin tahu, di manakah kauletakkan hatiku yang selama ini kuberikan padamu. Tapi, kamu pasti enggan menjawab dan tak mau tahu soal rasa penasaranku. Siapakah seseorang yang telah beruntung karena memiliki hatimu?

Mungkin... semua memang salahku. Yang menganggap semuanya berubah sesuai keinginanku. Yang bermimpi bisa menjadikanmu lebih dari teman. Salahkah jika perasaanku bertumbuh melebihi batas kewajaran? Aku mencintaimu tidak hanya sebagi teman, tapi juga sebagai seseorang yang bergitu bernilai dalam hidupku.

Namun, semua jauh dari harapku selama ini. Mungkin, memang aku yang terlalu berharap terlalu banyak. Akulah yang tak menyadari posisiku dan tak menyadari letakmu yang sengguh jauh dari genggaman tangan. Akulah yang bodoh. Akulah yang bersalah!

Tenanglah, tak perlu memerhatikanku lagi. Aku terbiasa tersakiti kok, terutama jika sebabnya kamu. Tidak perlu basa-basi, aku bisa sendiri. Dan, kamu pasti tak sadar, aku berbohong jika aku bisa begitu mudah melupakanmu.

Menjauhlah. Aku ingin dekat-dekat dengan kesepian saja, di sana lukaku terobati, di sana tak kutemui orang sepertimu, yang berganti-ganti topeng dengan mudahnya, yang berkata sayang dengan gampangnya.

dari seseorang yang kehabisan cara
membuktikan rasa cintanya

#DS

Rabu, 04 Desember 2013

Jika Dia Bukan Jodohku

Jika dia bukan jodohku, Ya Allah pudarkanlah keindahan wajahnya dari pandanganku, aku tak ingin mencintai orang yang salah ...
Sungguh walaupun melupakannya sangat menyakitkan, aku berusaha untuk sanggup, gugurkanlah satu persatu dengan perlahan semua kenangan ...
Kenangan yang senantiasa melekat erat dalam ingatanku, karena jika semua terhapus dalam waktu sekejap, aku takut itu akan menyiksa diriku..

Jika dia bukan jodohku, Ya Allah bantulah aku untuk mencabut perasaan tak biasa ini dari hatiku ...
Aku akan merasa bersalah dan mengutuki diri jika dia yang kini bersemayam anggun di hatiku bukanlah jodohku ...
Aku sadar itu tidaklah mudah karena akarnya terlanjur membumi di hatiku, tapi demi keridhoan-Mu, apa yang tidak akan aku lakukan?

Jika dia bukan jodohku, Ya Allah kumohon jangan hadirkan sosoknya lagi dalam mimpi-mimpi malamku ...
Karena itu hanya akan membuatku semakin berandai-andai dan lalai dari mengingat-Mu ...

Jika dia bukan jodohku, Ya Allah jauhkanlah sejauh yang aku butuhkan untuk menjadikan namanya terdengar biasa saja di pendengaranku ...
karena sungguh, atas perasaan ini aku tak mampu tenang bila mendengar namanya ...

Jika dia bukan jodohku, Ya Allah jauhkanlah sejauh yang aku butuhkan untuk menjadikan wajahnya terlihat biasa saja bagiku ...
Karena sungguh atas perasaan ini hatiku tak bisa bergetar wajar bila memandang wajahnya ...

Jika dia bukan jodohku, Ya Allah janganlah membuatku berbangga hati ketika menerima pesan darinya, hilangkanlah perasaan itu ...
Karena sungguh, aku akan selalu menunggu dengan berdebar-debar balasan pesan pesan selanjutnya ...

Jika dia bukan jodohku, Ya Allah janganlah membuatku selalu rindu mengaitkan hati padanya ...
Karena sungguh sangatlah menyakitkan jikalau aku tau bahwa dia tidak rindu padaku ...
Padahal merindukanMu lebih pantas diatas segala-galanya ...

Jika dia bukan jodohku, Ya Allah janganlah membuatku terus berharap kelak ia akan menjadi jodohku ...
Karena sungguh, sudah ada orang yang kelak menungguku di ujung sana, ialah jodohku sebenar-benarnya ...
Satu lagi pintaku ya Allah, jangan terus membuatku terlena akan-nya, krena aku harus memperbaiki dan memantaskan diri bagi jodohku diujung sana ...